Selasa, 10 April 2012

CARA PRAKTIS MEMBUAT TELOR ASIN

Telur jika hanya dikonsumsi dalam keadaan segar saja tidak mampu disimpan dalam waktu  yang terlalu lama.  Telur menjadi rusak dan tidak dapat dikonsumsi jika disimpan terlalu lama.  Oleh karena itu telur perlu diperlakukan dengan baik agar awet dan daya simpanya dapat dipertahankan dalam waktu yang lebih lama.
Untuk menjaga kesegaran dan mutu isi telur, diperlukan teknik penanganan yang tepat, agar nilai gizi telur tetap baik serta tidak berubah rasa, bau, warna, dan isinya.
Secara umum prinsip pengawetan telur adalah untuk mencegah masuknya bakteri pembusuk ke dalam telur yang dapat merusak telur dan mencegah keluarnya air dari dalam telur.
Pengawwetan telur secara utuh bersama dengan kulitnya (kerabang) dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain proses pendinginan; proses pembungkusan kering;  proses pelapisan dengan minyak; proses pencelupan dalam berbagai cairan.
Salah satu teknik pengawetan telur yang sudah banyak dilakukan oleh masyarakat adalah dengan menolahnya menjadi telur asin.  Telur asin mudah dipraktekkan, tidak memerlukan biaya yang mahal dan tidak memerlukan peralatan yang rumit, dengan peralatan yang sederhana sudah dapat dilakukan.
Secara sederjhana telur asin adalah telur utuh yang diawetkan dengan adonan yang dibubuhi garam.  Ada 3 cara pembuatan telur asin yaitu :
  • Telur asin dengan adonan garam berbentuk padat atau kering;
  • Telur asin dengan adonan garam ditambah ekstrak daun teh;
  • Telur asin dengan adonan garam, dan kemudian direndam dalam ekstrak atau cairan teh.
 Bahan dan Alat Pembuatan Telur Asin :
Bahan-bahan yang diperlukan dalam pembuatan telur asin antara lain Telur bebek yang bermutu baik 30 butir,  Abu gosok atau bubuk batu bata merah 1 ½ liter, Garam dapur ½ kg, Larutan daun teh (bila perlu) 50 gram teh per 3 liter air serta Air bersih secukupnya
Sedangkan alat – alat yang diperlukan antara lain  Ember plastik, Kuali tanah atau panci, Kompor atau alat pemanas, Alat pengaduk dan Stoples atau lainya untuk tempat  penyimpan telur
 Cara Pembuatan Telur Asin.
Tahap-tahap pembuatan telur asin antara lain :
  1. Pilih telur yang bermutu baik (tidak retak atau busuk);
  2. Bersihkan telur dengan jalan mencuci atau dilap dengan air hangat, kemudian  keringkan;
  3. Amplas seluruh permukaan telur agar pori-porinya terbuka;
  4. Buat adonan pengasin yang terdiri dari campuran abu gosok dan garam,   dengan  perbandingan sama (1:1). Dapat pula digunakan adonan yang terdiri  dari campuran  bubuk bata merah dengan garam;
  5. Tambahkan sedikit air ke dalam adonan kemudian aduk sampai adonan berbentuk   pasta;
  6. Bungkus telur dengan adonan satu persatu secara merata sekeliling permukaan  telur, kira-kira setebal 1~2 mm;
  7. Simpan telur dalam kuali atanah atau ember plastik selama 15 ~ 20 hari. Usahakan  agar telur tidak pecah, simpan di tempat yang bersih dan terbuka;
  8. Setelah selesai bersihkan telur dari adonan kemudian rendam dalam larutan teh  selama 8 hari (bila perlu).
Setelah proses ini berarti telur asin telah jadi, untuk dikonsumsi telur asin ini harus direbus terlebih dulu.  Telur asin yang sudah direbus ini bisa dikonsumsi sendiri untuk kebutuhan keluarga atau dijual sehingga dapat menambah pendapatan keluarga para peternak itik atau petani (Penulis : A. Rivai, dari Kalimantan Selatan. edit by admin. photo by Google)
Catatan : Telur yang diolah ini merupakan telur itik Alabio salah satu itik unggulan nasional dan saat ini sudah mampu mengolah 2.000 telur per hari.

Pengambilan Kebijakan Harus Ditingkatkan Kualitasnya

Badan Litbang Pertanian bertekad meningkatan kualitas kebijakan. Dalam hal ini, Kepala Badan Litbang Pertanian, Dr. Haryono mengingatkan bahwa  untuk meningkatkan kualitas kebijakan perlu keterlibatan berbagai pihak dalam pengambilan kebijakan. Hal ini disampaikan pada saat pengarahan Pelatihan Dinamika Sistem untuk Perumusan Kebijakan Sektor Pertanian  Kelas Reguler yang diselenggarakan pada 1 sampai dengan 6 April 2012 oleh Badan Litbang Pertanian bekerjasama dengan Institut Teknologi Bandung. Pelatihan  dikuti 38 peserta yang berasal dari Badan Litbang Pertanian, Direktorat Jenderal, Badan, Biro Perencanaan, dan Pusat Data dan Informasi, lingkup Kementerian Pertanian.

Selama lima tahun ke depan (2010-2014), Kementerian Pertanian mencanangkan 4 (empat) target utama yaitu pencapaian swasembada dan swasembada berkelajutan, peningkatan diversifikasi pangan, peningkatan nilai tambah, daya saing, dan ekspor, serta peningkatan kesejahteraan petani. Tantangan yang dihadapi untuk memenuhi empat target tersebut tidaklah ringan. Kebijakan yang diambil perlu dirumuskan dengan cermat berdasarkan pertimbangan yang akurat.

Pelatihan Dinamika Sistem Kelas Reguler ini merupakan satu rangkaian dengan pelatihan sebelumnya yang diselenggarakan untuk para pejabat Eselon II Badan Litbang Pertanian dan perwakilan Eselon II Kementerian Pertanian. Kepala Badan menunjukkan perhatiannya untuk perbaikan kualitas pengambilan kebijakan dengan langsung mengajar menyampaikan materi tentang tantangan kebijakan pemerintah di sektor pertanian.

Tindak lanjut pelatihan adalah tugas kelompok untuk memodelkan suatu sistem terkait dengan empat target utama Kementerian Pertanian dan isu-isu penting lainnya dalam pembangunan pertanian. Model yang dihasilkan akan dipresentasikan di depan pimpinan untuk selanjutnya disampaikan dalam seminar nasional. Target akhir adalah menghasilkan usulan kebijakan yang dapat diterapkan.

Senin, 02 April 2012

PROMOSI AGRIBISNIS UNTUK KESEJAHTERAAN PETANI

JAKARTA – Menteri Pertanian Dr. Suswono mengatakan bahwa program pembangunan pertanian merupakan upaya untuk memfasilitasi dan mendorong usaha pertanian sehingga memiliki nilai tambah dan daya saing yang tinggi baik di pasar domestik maupun internasional yang pada akhirnya mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya petani.

“Hal ini sesuai dengan visi Kementerian Pertanian yaitu terwujudnya pertanian industrial unggul berkelanjutan yang berbasis sumberdaya lokal untuk meningkatkan kemandirian pangan, nilai tambah, daya saing, ekspor dan kesejahteraan petani,” ujarnya dalam pembukaan Agrinex Ekspo ke-6 di Jakarta Convention Center (JCC)  Jumat (30/3/2012).
Saat ini, 80 % produk pertanian Indonesia masih diekspor dlm bahan mentah, dan hanya 20% yang merupakan produk olahan. Ditargetkan pada akhir 2014 rasio ekspor pertanian untuk produk olahan dapat meningkat hingga 50%. “Promosi adalah salah satu bentuk strategi pengembangan pemasaran, dimana melalui promosi, product image dan brand image dapat dibentuk, untuk itu diperlukan kampanye terus menerus, yang salah satunya melalui pameran atau ekspo,” tambah Mentan.

Sementara itu, Wakil Menteri Pertanian Dr. Rusman Heriawan mengatakan bahwa Ekspo ini merupakan suatu wahana yang dapat dipakai semua stakeholder yang menjadi pelaku utama agribisnis. “Ekspo ini diharapkan dapat menjadi tempat saling komunikasi antara konsumen dan produsen, karena dalam Ekspo ini terdapat berbagai informai mengenai agribisnis, mulai dari on farm hingga off farm,” tambahnya.
Dalam kesempatan ini, Badan Litbang Pertanian turut menampilkan berbagai inovasi teknologi unggulannya. Terintegrasi dalam booth Kementerian Pertanian, ditampilkan antara lain jagung varietas Bima 9 dan Bima 11, pepaya merah delima, sirsak varietas ratu, kentang varietas tenggo, bawang merah trisula, serta bawang merah sembrani.

Berbagai produk juga ditampilkan seperti telur asin manik merah, sop instan, jus belimbing, pupuk organic pellet, pupuk organic granul, Nodulin, Biobus, M-dex, dan lainnya.

Minggu, 04 Maret 2012

PUGAM-A, Pupuk Khusus Lahan Gambut


Potensi pertanian untuk lahan gambut baik untuk tanaman pangan dan perkebunan sangat luas. Hal ini merupakan potensi pasar yang besar sekaligus untuk meningkatkan produktivitas. Pupuk Lahan Gambut atau yang lebih dikenal PUGAM telah dihasilkan para peneliti Balai Penelitian Tanahdalam upaya mendukung pengelolaan lahan gambut yang lestari, meningkatkan produktivitas tanah, menekan emisi gas rumah kaca (GRK), meningkatkan propduksi tanaman maupun perkebunan.
Luas lahan gambut di Indonesia sekitar 33,4 juta ha yang sebagian tersebar di Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Gambut tergolong pada lahan sub-optimal dengan kendala kesuburan tanah rendah dan sifat fisik tanah yang rapuh. Dalam pengelolaan dan penggunaan lahan gambut sebagai tempat ekstensifikasi pertanian, perlu memperhatikan keberkelanjutan dan aspek-aspek konservasi yang ada didalamnya.
Badan Litbang Pertanian melalui Balai Penelitian Tanah telah menghasilkan beberapa formula pupuk khusus untuk lahan gambut (PUGAM), salah satunya yang sudah teruji adalah PUGAM-A. Pupuk PUGAM-A yang telah dilisensikan kepada PT. Polowijo Gosari adalah pupuk khusus lahan gambut yang diformulasikan dari bahan terak baja dan diperkaya dengan fosfat serta bahan lain yang aktif sebagai senyawa pengkhelat.
PUGAM-A adalah pupuk slow release berbentuk granul yang berperan untuk mensuplai hara tanaman, juga berfungsi sebagai amelioran untuk mengurangi pengaruh buruk asam organik beracun, mengurangi pencucian hara P dan efektif menekan menekan emisi CO2. PUGAM-A efektif mengurangi pencucian P karena PUGAM-A memiliki sifat slow release dan membentuk tapak jerapan positif pada gambut sehingga mampu menahan pencucian P.
Dosis optimum PUGAM-A untuk tanaman pangan adalah 600 – 725 kg/ha. Untuk tanaman berikutnya, dosis PUGAM-A yang diperlukan hanya separuh tanaman pertama yaitu antara 300 – 365 kg/ha. Pemupukan untuk tanaman perkebunan (khususnya kelapa sawit) : TBM umur 1 – 3 th diperlukan 2-3 kg/tanaman/th, untuk tanaman menghasilkan (TM) sekitar 4 – 5 kg/tanaman/tahun.

Keluar dari Zona Nyaman untuk Surplus 10 juta ton Beras


JAKARTA – Jika surplus beras 10 juta ton pada tahun 2014 ingin tercapai, menurut Kepala Badan Litbang Pertanian Dr. Haryono, maka semua pihak harus beranjak dari comfort zone dan upaya untuk memperbaiki masalah yang ada.
“Surplus beras 10 juta ton pada tahun 2014 tidak mungkin dapat tercapai kalau kita hanya bertahan pada kondisi existing. Perlu upaya perbaikan irigasi, pengendalian OPT, persediaan benih, pengendalian losses dan ekstensifikasi lahan,” ujarnya di sela acara Workshop System Modelling untuk Kebijakan Prioritas Nasional : Menuju Surplus 10 juta ton beras di 2014 di hotel Le Meridien Jakarta, Sabtu (25/2/2012). 
Kepala Badan pun menekankan, surplus 10 juta ton beras pada tahun 2014 hanya akan dicapai secara berkesinambungan dengan mengupayakan antara lain rehabilitasi  jaringan irigasi secara bertahap untuk meningkatkan Indeks Pertanaman (IP), mencetak sawah baru dengan memanfaatakan lahan sub optimal terutama lahan pasang surut, penerapan teknologi budidaya (jajar legowo), rekomendasi pemakaian pupuk berimbang, dan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT).
Revitalisasi penggilingan untuk meningkatkan rendemen giling serta menurunkan laju konsumsi beras secara bertahap juga perlu dilakukan.

Padi Lokal Mandel


Beras merah merupakan jenis beras yang memiliki berbagai kandungan vitamin terutama Vit. B dan Vit. E. Di Gunungkidul saat ini terdapat beberapa rumah makan menyajikan nasi merah (sego abang) dan sayur lombok ijo sebagai ciri khas Gunungkidul. Kalangan masyarakat tertentu sudah banyak membeli beras merah untuk dikonsumsi sehari-hari.
Salah satu jenis varietas padi lokal yang menghasilkan beras merah yaitu Varietas Mandel. Tanaman ini masih dikembangkan oleh sebagian petani di wilayah Gunungkidul. Pada Lokasi MP3MI Gunungkidul dilakukan pendampingan penanaman padi Varietas Mandel di lahan tegalan yang terletak di Dusun Grogol 5 Bejiharjo.
Selain jenis padi yang ditanam pada lahan pendampingan tersebut, petani sebagian memilih jenis varietas lain meliputi Situbagendit, Ciherang. Pada musim tanaman MH-I 2011 penanaman dilakukan pada awal November.
Cara tanam padi Mandel yakni ditugal dengan jarak tanam bervariasi (20-30 cm). Tinggi tanaman mencapai kurang lebih 160 cm dengan jumlah anakan rata-rata 5-6 per rumpun. Hasil keragaan di lapang tanaman padi varietas Mandel cukup menarik dibandingkan dengan varietas lain.
Jumlah gabah dalam satu malai mencapai kurang lebih 215 bulir. Panen akan dilakukan pada minggu ketiga bulan Februari 2012 dengan umur tanaman kurang lebih 110 hari.

SERTIFIKASI DAN KOMODITAS PERTANIAN ORGANIK YANG LAYAK DIKEMBANGKAN

Beberapa tahun terakhir, pertanian organik modern masuk dalam sistem pertanian Indonesia secara sporadis dan kecil-kecilan. Pertanian organik modern berkembang memproduksi bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan sistem produksi yang ramah lingkungan. Tetapi secara umum konsep pertanian organik modern belum banyak dikenal dan masih banyak dipertanyakan. Penekanan sementara ini lebih kepada meninggalkan pemakaian pestisida sintetis. Dengan makin berkembangnya pengetahuan dan teknologi kesehatan, lingkungan hidup, mikrobiologi, kimia, molekuler biologi, biokimia dan lain-lain, pertanian organik terus berkembang. 
 
Dalam sistem pertanian organik modern diperlukan standar mutu dan ini diberlakukan oleh negara-negara pengimpor dengan sangat ketat. Sering satu produk pertanian organik harus dikembalikan ke negara pengekspor termasuk ke Indonesia karena masih ditemukan kandungan residu pestisida maupun bahan kimia lainnya. 
Banyaknya produk-produk yang mengklaim sebagai produk pertanian organik yang tidak disertifikasi membuat keraguan di pihak konsumen. Sertifikasi produk pertanian organik dapat dibagi menjadi dua kriteria yaitu: 
  1. Sertifikasi Lokal untuk pangsa pasar dalam negeri. Kegiatan pertanian ini masih mentoleransi penggunaan pupuk kimia sintetis dalam jumlah yang minimal atau Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA), namun sudah sangat membatasi penggunaan pestisida sintetis. Pengendalian OPT dengan menggunakan biopestisida, varietas toleran, maupun agensia hayati. Tim untuk merumuskan sertifikasi nasional sudah dibentuk oleh Departemen Pertanian dengan melibatkan perguruan tinggi dan pihak-pihak lain yang terkait. 
  2. Sertifikasi Internasional untuk pangsa ekspor dan kalangan tertentu di dalam negeri, seperti misalnya sertifikasi yang dikeluarkan oleh SKAL ataupun IFOAM. Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi antara lain masa konversi lahan, tempat penyimpanan produk organik, bibit, pupuk dan pestisida serta pengolahan hasilnya harus memenuhi persyaratan tertentu sebagai produk pertanian organik. 
Beberapa komoditas prospektif yang dapat dikembangkan dengan sistem pertanian organik di Indonesia antara lain tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, tanaman rempah dan obat, serta peternakan. Menghadapi era perdagangan bebas pada tahun 2010 mendatang diharapkan pertanian organik Indonesia sudah dapat mengekspor produknya ke pasar internasional. Komoditas yang layak dikembangkan dengan sistem pertanian organik:
  1. Tanaman Pangan Padi
  2. Hortikultura Sayuran: brokoli, kubis merah, petsai, caisin, cho putih, kubis tunas, bayam daun, labu siyam, oyong dan baligo. Buah: nangka, durian, salak, mangga, jeruk dan manggis. 
  3. Perkebunan Kelapa, pala, jambu mete, cengkeh, lada, vanili dan kopi. 
  4. Rempah dan obat Jahe, kunyit, temulawak, dan temu-temuan lainnya. 
  5. Peternakan Susu, telur dan daging